Popular Post

5 Mitos Tentang Deodoran dan Kanker Payudara

Written By Bodhonk on Senin, 06 Mei 2013 | 12.26

Senin, 06 Mei 2013



Tak bisa dipungkiri, produk kosmetik dan perawatan kulit pasti mengandung bahan kimia. Tak heran jika banyak kabar beredar tentang efek buruk penggunaan produk-produk tersebut, seperti rumor tentang deodoran yang katanya bisa meningkatkan risiko kanker payudara. Tapi apakah benar?
 
Jangan telan bulat-bulat semua informasi yang Anda dengar. Di bawah ini ada lima mitos yang salah tentang deodoran dan antiperspirant, yang sudah dibantah oleh banyak ahli termasuk oleh American Cancer Society.

1. Deodoran meningkatkan risiko kanker payudara?
Nyaris tak ada bukti ilmiah yang mendukung mitos ini. Sejumlah ilmuwan pernah melakukan penelitian di tahun 2002, melibatkan 813 wanita pengidap kanker payudara dan 793 wanita yang sehat. Para ilmuwan tersebut tak menemukan adanya hubungan antara risiko kanker payudara dengan penggunaan deodoran, maupun dengan kebiasaan mencukur bulu ketiak.

2. Memakai deodoran setelah mencukur rambut ketiak membuat bahan kimia yang berbahaya jadi lebih mudah masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan kanker payudara?
Jika Anda bercukur dan tak sengaja melukai kulit ketiak Anda, kulit Anda berisiko terkena infeksi. Dan jika kulit yang luka atau terinfeksi terkena paparan deodoran, tentu saja akan menimbulkan iritasi kulit. Bukan kanker payudara.

3. Deodoran mengandung bahan kimia bernama parabens yang menyebabkan kanker?
Penelitian menunjukkan bahwa parabens mengandung substansi yang mirip dengan hormon estrogen. Jika tubuh terpapar banyak estrogen, risiko kanker payudara memang meningkat. Namun estrogen yang terdapat dalam parabens jauh lebih sedikit dibanding estrogen yang dihasilkan secara alami oleh tubuh kita. Fakta lainnya: parabens tak hanya terdapat pada deodoran, tapi juga shampo, body lotion, sun screen, dan berbagai jenis make up. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa parabens bisa ditemukan pada urine di 99% manusia. Dan hingga kini belum ada bukti bahwa parabens menyebabkan kanker.

4. Antiperspirant membuat produksi keringat berkurang. Racun-racun berbahaya di dalam tubuh jadi tak bisa terbuang, dong?
Tubuh membersihkan diri dari racun-racun yang berpotensi menyebabkan kanker bukan lewat keringat, melainkan dengan bantuan ginjal dan hati. Bahan-bahan berbahaya ini "diusir" keluar dari darah melalui urine dan feces.

5. Risiko kanker payudara bagi pria lebih kecil karena mereka tak mencukur bulu ketiak dan bahan-bahan deodoran tak terserap masuk ke dalam kulit?
Pria lebih jarang terkena kanker payudara dibanding wanita karean pria memiliki jaringan payudara yang lebih sedikit dibanding wanita. Jaringan payudara wanita jumlahnya seratus kali lipat pria, jadi wajar saja jika risiko kanker payudara pada wanita pun seratus kali lebih besar. Hal lain yang menyebabkan perbedaan tingginya risiko kanker payudara adalah hormon. Jika seorang pria memiliki kadar hormon estrogen yang tinggi, ia pun berisiko lebih besar untuk terkena kanker payudara. Bukan karena rambut ketiak maupun deodoran.

Yahoo! SHE



Like This..?? Share This Article.......
Read More | komentar

Penyebab Sendawa Saat Pijat


Seringkali tanpa disadari, kita bersendawa saat dipijat. Itu mungkin normal. Namun kenapa ada juga orang yang bersendawa saat memijat orang lain? Mari kita simak penjelasannya.

Menurut dr. Hawin Nurdiana, M.Kes, normal saja orang bersendawa saat sedang dipijat, sebab pijat berfungsi memperlancar peredaran darah. Darah bertugas membawa zat-zat, di antaranya oksigen ke seluruh tubuh. Peredaran darah yang lancar berkat dipijat akan mengaktifkan kerja organ-organ tubuh, di antaranya organ dalam sistem pencernaan. 

“Organ yang semula istirahat dan menyimpan udara, menjadi aktif dan membuang udara dengan cara bersendawa,” ujar dosen di Universitas Muhammadiyah Malang ini. 

Jadi, lanjutnya, ”pijat sebenarnya rangsangan refleks terhadap rongga pencernaan untuk mengeluarkan udara. Pengeluarannya bisa berupa sendawa atau buang angin”. 

Lalu bagaimana bila terapis pijat yang bersendawa?

Founder & Owner Fitto Reflexology, O.A Yuwono  menjelaskan, jika terapis bersendawa berarti tengah terjadi proses transfer energi dari orang yang dipijat kepada pemijat. Namun proses itu tidak bisa dirasakan semua terapis. 

Terapis yang bersendawa biasanya karena dia memiliki kepekaan yang lebih. Karena itu, penyakit yang diderita pasien juga bisa pindah ke terapis. 

“Reaksi yang terjadi pada terapis bisa bersendawa, batuk-batuk, atau mengalami pegal-pegal,” jelas Yuwono. Tak heran ada terapis merasa capek dan pegal usai memijat, tapi bukan akibat aktivitas fisik memijat.

Jadi dalam ilmu pijat, istilah transfer energi memang dikenal. Sangat berbahaya bila sang terapis tidak tahu cara membuang energi negatif (penyakit) tadi. 

“Bisa dibayangkan bila dalam sehari terapis memijat empat pasien yang menderita penyakit seperti masuk angin. Bisa terjadi transfer energi dari keempat pasien, kan kasihan terapisnya,” katanya.

Oleh karena itu, Yuwono menyarankan, setiap terapis harus berdoa dulu sebelum melakukan pemijatan. “Mintalah tolong kepada Tuhan supaya energi yang tertransfer ke tubuhnya bisa dikembalikan ke bumi,” ujarnya.

Selain itu, ada teknik pemijatan yang memungkinkan transfer energi dibuang ke bumi. Caranya adalah dengan mengarahkan tangan pasien ke arah bawah (arah bumi) saat pemijatan. 

Namun bila ditinjau dengan ilmu kedokteran, tidak seperti itu. Menurut dr. Rifsia Ajani, proses transfer penyakit yang dialami oleh ahli terapis pijat seperti pada kasus sendawa saat memijat, tidak dikenal dalam dunia kedokteran. 

"Saya belum pernah menemukan penjelasan secara ilmiah tentang hal itu," ujar dr. Rifsia.

Kendati demikian, dalam ilmu kedokteran tetap diakui bahwa pijat memiliki banyak manfaat. Ketika masuk angin akibat keletihan dan stres misalnya, otot terasa nyeri. “Pijat membantu relaksasi otot,” katanya.

Yuwono menambahkan, indikasi masuk angin bisa dilihat pada badan yang memerah saat dipijat. “Dengan pemijatan sirkulasi darah akan lancar dan keluar angin,” ujarnya. 

Agar proses pijat berjalan aman dan nyaman, O.A Yuwono memberikan tipsnya sebagai berikut, baik untuk terapis maupun yang dipijat:

- Sebelum memijat, terapis berdoa dulu minta pertolongan kepada Tuhan agar tidak terjadi transfer energi negatif dari tubuh pasien ke tubuhnya.

- Arahkan tangan ke bawah saat pemijatan, sebagai bentuk transfer energi negatif dari pasien ke arah bumi.

- Bagi orang yang akan pijat, pilihlah tempat pijat yang nyaman. Idealnya ruang pemijatan untuk laki-laki dan perempuan terpisah. Ini indikator paling gampang membedakan mana tempat pijat yang baik atau tidak.

- Pilihlah terapis yang memiliki sertifikat pemijatan, sehingga keahliannya dalam memijat sudah teruji.

- Pastikan apakah tempat pijat tersebut memiliki perizinan dari Dinas Kesehatan dan Dinas Pariwisata untuk spa.
Yahoo! SHE



Like This..?? Share This Article.......
Read More | komentar

Love Parade, festival bebas bercinta yang dilarang selamanya

Written By Bodhonk on Minggu, 05 Mei 2013 | 00.00

Minggu, 05 Mei 2013



Love Parade, festival tahunan yang diadakan di Jerman setiap awal musim panas. Sebenarnya, Love Parade bukan festival seks resmi, namun bisa dibilang di sana adalah 'surga' bagi para pasangan.
Bagaimana tidak, setiap tahunnya, ada sekitar 1,5 juta muda-mudi yang bergairah dan siap berdansa semalaman di jalan. Mereka juga bebas berciuman, saling meraba, sampai bercinta di tengah-tengah keramaian, demikian seperti yang dikutip dari AskMen.
Diadakan pertama kali pada tahun 1989, Love Parade sekarang sayangnya sudah ditiadakan. Namun bukan aksi bebas bercinta yang menyebabkan festival ini dilarang selamanya. Mau tahu lebih jelas? Simak selengkapnya melalui ulasan berikut ini.


1. LOVE PARADE PERTAMA


Love Parade sebenarnya adalah festival musik dan dansa elektronik di jalanan. Love Parade pertama kali diadakan di Berlin Barat, pada tahun 1989. Sejak saat itu, Love Parade pun dilangsungkan di berbagai kota di Jerman.
Sebagaimana dilansir dari NowHolidays, sejak tahun 1989, Love Parade rutin diadakan setiap tahun. Festival tersebut kembali muncul pada tahun 2006 di Berlin, kemudian tahun 2007-2010 di kawasan Ruhr.

2. KOSTUM LOVE PARADE


Menurut BerlinLoveParade, siapa saja boleh ikut Love Parade di Jerman. Namun pengunjung dipastikan banyak menggunakan pakaian berwarna cerah, terbuka, sampai telanjang!
Orang-orang menganggap Love Parade sebagai festival kebebasan dan penuh toleransi. Semua orang berkumpul, menari, dan bersenang-senang bersama. Bahkan, bukan hanya pasangan berbeda jenis yang ramai memenuhi Love Parade, pasangan sesama jenis pun ikut meramaikan festival tersebut.

3. AKTIVITAS LOVE PARADE


Musik yang dimainkan di Love Parade adalah yang bertema dansa, seperti trance, house, techno, dan schranz. Sebab festival ini pada dasarnya memang tentang musik dan tarian.
Love Parade pun dikemas sedemikian rupa sebagai simbol kesenangan untuk orang-orang yang berpartisipasi. Jadi segala macam aktivitas hampir dibebaskan untuk dilakukan di sini. Sebut saja berciuman, saling meraba, mabuk, mengonsumsi narkoba, sampai bercinta di tengah keramaian.

4. INSIDEN LOVE PARADE


Meskipun telah diadakan rutin sejak tahun 1989, Love Parade terakhir kali dilangsungkan pada tahun 2010 lalu. Namun bukan aksi kebebasan yang menyebabkan festival ini dilarang selamanya, melainkan kekacauan yang memakan 21 korban meninggal dan 510 luka-luka.
Pengunjung yang membludak adalah penyebab dari insiden ini. Huffington Post melaporkan bahwa pihak panitia festival kurang peduli dengan pengunjung. Mereka hanya fokus dengan cara mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya.

5. NASIB LOVE PARADE


Karena memakan banyak korban pada tahun 2010 lalu, Love Parade pun dihentikan. Bukan hanya itu, Love Parade akhirnya dilarang untuk diadakan selamanya. Meskipun demikian, banyak pula warga Jerman yang berharap agar Love Parade kembali dihidupkan. Namun belum ada kepastian apakah tahun ini festival tersebut benar-benar akan dilangsungkan atau tidak.

Like This..?? Share This Article.......
Read More | komentar

Bermerk Belum Tentu Borju

Written By Bodhonk on Sabtu, 04 Mei 2013 | 22.20

Sabtu, 04 Mei 2013


Hmmm… Saya sering dibilang borju dan sombong oleh teman-teman yang belum kenal dekat dengan saya, gara-gara kedapatan punya barang bermerek dan orisinal. Misalnya saja PC, laptop, ponsel, bahkan sampai kacamata hingga sepatu. Well… sebenarnya saya bukan sombong, borju, atau brand-minded, tapi lebih karena saya percaya bahwa merek berjalan seiring dengan kualitas.

Penafian: merek-merek yang saya sebutkan ini hanya sekadar contoh yang saya alami dan pakai sendiri. Tidak bermaksud untuk mengiklankan atau mempromosikan merek tertentu. Dalam pembuatan tulisan ini, saya tidak berafiliasi dengan pihak mana pun.

Bermerek = Awet?
Setiap barang yang bermerek pasti membawa nama besar merek yang menempel di setiap produknya, dan hal tersebutlah yang membuat barang bermerek lebih mahal harganya dibandingkan dengan barang yang masuk dalam kategori ‘biasa-biasa’ saja.

Nah, lantas kenapa barang bermerek harganya bisa lebih mahal? Karena mereka menawarkan janji ‘keawetan’ dan ‘masa pakai’ yang lebih panjang daripada barang yang bukan bermerek. Masa pakai, itulah imbal hasil yang akan saya dapatkan ketika membeli barang bermerek. Kalau barang biasa hanya punya masa pakai sekitar satu tahun rusak, barang yang saya punya rata-rata punya masa pakai di atas lima tahun (dengan pemakaian normal dan tidak dipaksakan lewat ambang batas maksimum yang dimiliki oleh barang tersebut).

Ketika teman-teman saya itu sudah berganti-ganti barang karena yang lama sudah rusak, saya masih tetap setia dengan barang bermerek yang saya beli itu. Mereka pun bertanya lagi, “kok punya lo masih awet aja sih?” Kalau sudah begitu, dengan cengiran lebar saya akan bilang, “Karena barang gue bermerek. Jadinya ya awet.” Belum sempat mereka membalas, saya potong lagi, “Sekarang, kalo dipikir-pikir, lo udah berapa kali ganti? Kayaknya tiap tahun lu ganti itu barang… Duitnya keluar lebih banyak dong? Kalo gitu, siapa yang borju? Hehehe.”

Sejauh pengalaman saya dalam menggunakan barang bermerek, ya, saya bisa buktikan sendiri bahwa barang bermerek memang jauh lebih awet daripada barang yang tidak bermerek. Lagipula, barang bermerek lebih berani dalam menawarkan garansi. Biasanya garansi yang mereka tawarkan adalah minimal satu tahun dan maksimal 5 tahun. Tergatung jenis barang yang Anda beli. Dan apabila ada cacat yang tidak kelihatan dalam masa pembelian, mereka tidak segan-segan untuk menggantinya dengan barang baru bila Anda mengajukan klaim.

Bermerek = Irit?
Ini juga salah satu hal yang membuat saya lebih senang menggunakan barang bermerek. Saya bisa lebih irit! Tidak percaya? Coba mari kita hitung ya. Kalau kita coba lihat dari sisi keawetan, sudah jelas iritnya. Bayangkan Anda membeli barang yang tidak bermerek. Seperti yang saya bilang tadi, karena barang yang Anda pakai itu tidak bermerek, Anda terpaksa harus menikmati siklus masa pakai yang lebih pendek. Kasarnya, kalau dengan barang bermerek Anda bisa memakai maksimal 5 tahun baru rusak, ini belum 1 tahun sudah rusak. Kalau dibandingkan, bermerek, 5 tahun baru ganti sekali; tidak bermerek, selama 5 tahun ganti lima kali. Tinggal kalikan harga produk yang dibeli, dan jangan lupa kenaikan tingkat inflasi. Saya berani jamin kalau Anda akan keluar lebih banyak uang ketika memakai barang yang tidak bermerek.

Contoh lain? Hmmm… Kita pakai analogi parfum saja deh ya. Parfum? Iya, parfum. Seperti tas, parfum juga ada yang KW-an. Ada KW-3 sampai KW-1, sampai KW-Super. Tapi, tentu saja ada yang orisinal dong? Nah, bicara soal parfum, dulu saya pernah pakai parfum asli Dolce & Gabana yang saya beli di Plaza Senayan seharga Rp600.000,- Mahal? Memang, tapi apa yang saya dapatkan? Saya baru menghabiskan parfum itu setelah hampir 2 tahun. Lebay? Enggak juga, dan itu benar adanya. Kenapa bisa selama itu? Itu karena kalau parfum asli, cukup dua atau tiga kali semprot (semprot dari jarak dekat dari permukaan baju), wanginya tahan berhari-hari. Bahkan sampai dicuci pun masih meninggalkan baunya. Nah, karena wanginya tahan bahkan setelah dicuci sekalipun, otomatis saya tidak perlu semprot lagi karena bau ’sisa’ semprot kemarin masih ada. Kalau dihitung, dua sampai tiga kali semprot itu wanginya bisa tahan 2-4 hari. Dalam seminggu, paling saya maksimal 2 kali semprot baru. Otomatis? Irit! Tentu ini berbeda dengan parfum-parfum KW-an (yang kalau bukan KW-Super dan bibitnya bagus) yang sampai tengah hari juga sudah pudar wanginya.

Begitu juga dengan parfum merek lain seperti DaviDoff, Calvin Klein, Hugo Boss, dan Bvlgari yang juga saya beli orisinal. Rata-rata itu parfum habis dalam jangka waktu yang sama dengan si D&G, karena saya gak pakai terus-terusan. Irit, jelas! Bahkan yang Hugo Boss masih ada beberapa mili tuh… buat dijadikan pewangi lemari.. Hehehe.


Bermerek, Sayang Diri Sendiri?
Hmm… kalau wilayah ini saya tidak bisa berspekulasi. Mungkin ada yang setuju, mungkin ada yang tidak. Mungkin juga ada yang abstain. Tapi, yang jelas, bagi Anda yang sangat memerhatikan kebutuhan dan kenyamanan tubuh dalam menjalankan aktivitas, saya bisa bilang menggunakan barang bermerek itu adalah bentuk dari praktik menyayangi diri sendiri.
Contohnya? Saya sendiri saja, nggak usah jauh-jauh.

Buat saya, ada beberapa barang yang memang saya pastikan harus bermerek, karena kalau tidak bermerek, maka itu akan memberi pengaruh merugikan bagi kesehatan tubuh saya dalam jangka panjang. Salah satunya adalah kacamata. Kenapa kacamata? Karena benda ini adalah kebutuhan saya yang paling basic untuk bisa menjalani aktivitas sehari-hari. Sedari kecil, mata saya sudah terkena minus. Dan sedari kecil pula, saya telah diharuskan untuk memakai kacamata.

Nah, bicara soal kacamata, saya juga menggunakan kacamata yang bermerek. Kacamata yang saya pakai biasanya bermerek Oakley. Kalau Anda lihat foto profil saya di Kompasiana ini, ya itu juga kacamata merek Oakley yang sudah saya pakai lebih dari lima tahun. Awet ya? Iya, framenya memang awet, sejauh ini saya hanya mengganti lensanya saja. Mahal dong? Pastinya.
Untuk kacamata ini, jujur saja, saya menghabiskan biaya Rp1,5 juta untuk framenya saja, yang bermerek Oakley orisinal. Sementara itu untuk lensa saya menghabiskan biaya sekitar Rp2 juta untuk sepasang. Tapi, apa yang saya dapatkan?
  • Frame kacamata yang tahan banting. Mau saya pakai baca sampai ketiduran, jaminan nggak bakalan bengkok atau patah, karena terbuat dari titanium asli. Bahkan ketika saya jatuh dari motor pun itu kacamata hanya terlepas, tidak pecah, tidak patah, tidak kendur sama sekali bautnya. Ajaib? Memang. Lagi pula itu kacamata bisa tetap diam di tempatnya (di tulang hidung) dan tidak merosot dengan tiba-tiba.
  • Kepadatan lensa yang diukur secara presisi. Kenapa harus presisi? Karena kalau asal-asalan, itu akan berpengaruh langsung pada mata Anda. Kalau Anda menggunakan kacamata dan harus mengalami masa transisi dari kacamata lama ke kacamata baru, pasti Anda pusing-pusing kan? Nah, kalau itu tukang kacamatanya mengukur kepadatan lensa dengan benar dan presisi, dijamin masa peralihannya akan singkat saja dan dalam jangka panjang mata Anda tidak akan cepat lelah, tidak akan cepat pusing, dan menstabilkan nilai minus mata Anda.
  • Masa pakai. Untuk masa pakai frame Oakley ini total saya menghabiskan waktu lebih dari lima tahun. Pertama kali pakai ketika kuliah awal tingkat dua, dan diganti dengan frame baru di pertengahan tahun 2012 kemarin.
Lantas, Apakah Saya Beneran Borju?
Tidak juga. Saya bukan orang borju, mendiang orangtua saya juga orang biasa. Sekarang saya pun masih jadi pegawai biasa. Tapi, kenapa saya bisa membeli barang yang rata-rata bermerek? Mudah saja, saya menabung sampai cukup. Kalau uangnya belum ada, ya saya diam saja, nggak beli apa-apa. Itulah yang nggak diketahui oleh semua orang, dan kalaupun ada yang tahu, nggak dipraktikkan. Hayo, ngaku saja deh?! Hehehe. Selain itu saya juga nggak pernah pakai kartu kredit! Ngapain? Ngutang kok dipelihara?!
Selain itu, saya juga rajin cari barang bermerek, tapi diskon. Dalam bisnis, mau barang yang bermerek ataupun tidak, pasti juga ada masa jenuhnya. Biasanya produsen pun menjalani ritual yang sama supaya stok barang bisa dialirkan dan arus kasnya mengalir lagi: diskon atau cuci gudang. Dengan demikian, saya bisa punya barang bermerek dengan kualitas bagus dan dengan harga miring.

Sebagai contoh, beberapa bulan yang lalu saya pernah membeli sepatu bermerek Reebok di sebuah toko di sebuah mal di Cihampelas, Bandung. Biasanya, untuk membeli sepatu, dana yang saya sediakan adalah sebesar Rp700.000,- karena kaki saya memang berukuran besar (ukuran 47, Eur). Kebetulan, sepatu lama saya sudah saatnya pensiun, sudah dipakai sejak kuliah tingkat 2 juga. Nah, ketika itu saya melihat ada toko yang cuci gudang. Penasaran, saya tanya saja. Ternyata ada tipe yang saya cari, ukurannya ada, dan sedang diskon setengah harga! :D Tanpa ba-bi-bu lagi, saya langsung beli 2 sepatu Reebok, dengan total 700.000 rupiah saja. Kalau tanpa diskon saya harusnya menghabiskan uang sebesar Rp1.4 juta untuk dua pasang sepatu. Nah, apakah awet? Tentu saja awet karena pemakaian saya normal dan tidak ekstrem.

So, What’s The Point?
Jangan berpikiran sempitlah… Nggak semua orang yang punya barang bermerek itu berasal dari kaum borjuis… Orang-orang yang semacam saya ini memang benar-benar paham kualitas yang ditawarkan, butuh dengan kualitas tersebut, dan memahami bahwa dengan menggunakan barang yang sudah bermerek dari saananya, kami bisa menghemat lebih banyak pengeluaran. Bukan karena ikut gaya-gayaan atau apalah namanya. Pokoknya, kalau Anda benar-benar mengerti kurva masa pakai barang, mungkin Anda bakal setuju juga dengan saya.

Memang sih, butuh pembiasaan untuk bisa mengerti pola pikir yang semacam ini. Tapi yakinlah, kalau Anda sudah menemukan esensi dan fungsi dari menggunakan barang bermerek. Saya bisa jamin Anda tidak akan rugi. :) Tapi, yah, kalau Anda tetap tidak setuju karena punya ilmu buat cari barang berkualitas (walau tidak bermerek) dan dengan harga miring, bolehlah bagi-bagi ilmunya… :)



Like This..?? Share This Article.......
Read More | komentar

Pesawat, Aku Minta Uangnya



Seperti biasa, hari sabtu-minggu adalah hari santai sedunia buat saya. Penerapan 5 hari kerja membuat saya punya banyak waktu untuk menghabiskan waktu bersama keluarga selain untuk beristirahat. Terkadang, hari sabtu-minggu juga digunakan untuk pengembangan diri — belajar dan menulis di Kompasiana. Justru saya lebih produktif menulis di hari sabtu-minggu.

Sabtu ini (4/5) saya sedang santai browsing di Kompasiana, membaca komentar yang membahas tentang istilah Cheerleader yang saya sematkan untuk tim penggembira di Kompasiana (baca: Kompasiana Tidak Butuh Tim Cheerleaders). Tiba-tiba di luar terdengar suara baling-baling helikopter menderu-deru. Tidak hanya satu, tetapi sekaligus. Mereka terbang rendah dan membentuk formasi garis lurus. Cukup rendah untuk bisa melihat bentuknya yang mirip helikopter Apache namun tidak dilengkapi dengan roket yang biasa disematkan di kiri dan kanan sayap kecilnya.

Tiba-tiba saya teringat masa kecil dahulu saat tinggal di sebuah desa pesisir pantai dekat Jembatan Suramadu saat ini. Saat itu listrik belum menyala di desa saya. Hiburan yang ada dengan main di kebun berburu musang dan burung, mancing ikan dan kepiting di sungai, mandi dan berenang di sungai dan di pantai. Andai harus keluar main pada malam hari, itupun karena di luar sedang terang bulan yang membuat kami bermain bersama. Sementara para orang tua berbicang santai di teras rumah.

Kala itu, alat transportasi yang saya kenal baik, hanya dokar, perahu layar, mobil Mitsubishi Colt sebagai angkutan umum dan kapal tongkang kalau akan menyeberangi Selat Madura menuju ke Surabaya. Itupun harus ditempuh dengan perjalanan darat selama 20 menit menuju pelabuhan dengan angkutan umum.

Sedangkan alat transportasi kereta api, bagi saya saat itu seperti sebuah benda ajaib yang besar. Tak heran jika saat bercanda dengan teman-teman sekolah dasar, kebanyakan dari kami ingin menjadi masinis kereta api. Imajinasi kami menggambarkan, betapa gagahnya seorang masinis kereta api, yang mengendalikan kereta besi yang besar dan panjang.

Namun alat trasnsportasi yang benar-benar kami kagumi kala itu adalah pesawat terbang. Bagaimana sebuah benda yang terbuat dari besi, bisa terbang di udara untuk mengangkut penumpang. Tak heran saat ada pesawat terbang menderu di udara desa kami, anak-anak kecil seperti saya langsung menengadahkan ke langit dan berteriak-teriak “tor molok, mentah pessennah” berulang-ulang. Tor molok adalah istilah untuk pesawat terbang dalam bahasa Madura, yang berasal dari kata montor (motor/mobil) dan molok (terbang). kata ‘mentah pessennah’, artinya mintah uangnya. Kadang-kadang meneriakkan kalimat tersebut sambil berlarian mengikuti arah pesawat. Beruntung saya tidak mengalami peristiwa sepertid alam film ‘God must be crazy’ saat sebuah botol minuman jatuh dari langit (pesawat) dan dianggap sebagai benda ajaib.

Saya tidak tahu, apakah Anda juga saat kecil, melakukan hal yang sama saat melihat pesawat terang melintas di langit. Jika benar, maka saya dan Anda sama-sama orang desanya. Hahaha… jangan pungkiri keudikan kita. Menjadi orang desa atau udik bukan aib, tetapi menjadi sebuah cerita tersendiri.

Kedua anak saya tidak pernah mengalami yang saya alami. Mereka tidak pernah heran dan berteriak-teriak saat melihat kereta api dan pesawat terbang. Pasalnya, rumah saya dekat dengan Bandara Juanda. Kereta api dan kommuter setiap waktu melintas memaksa kami untuk berhenti di perlintasan kereta api. Sedangkan pesawat terbang, setiap hari terbang di atas kepala kami. Sering kali juga mereka mengantar saya atau pamannya ke Bandara Juanda dan melihat pesawat naik turun di bandara.

‘Kasihan’, anak-anak jaman sekarang tidak menemukan kegembiraan saat melihat kerta api dan pesawat terbang seperti jaman saya dahulu. Entah apa yang membuat mereka heran saat ini sehingga berteriak-teriak ala ‘anak desa’ seperti jaman saya dahulu.



Like This..?? Share This Article.......
Read More | komentar

Bapak Rumah Tangga, Lazimkah??



Bapak Rumah Tangga’, masih jarang terdengar di masyarakat, namun bukan berarti ‘profesi’ tersebut tidak ada. Beberapa pasangan suami-istri pun sepakat untuk bertukar peran dalam mengurus rumah dan mencari nafkah.

Di Indonesia, sudah seperti ‘kewajiban’ bahwa seorang suami harus bekerja dan berperan sebagai pencari nafkah utama untuk menghidupi keluarga. Tak jarang, stigma miring pun menghinggapi para lelaki yang tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga, sekalipun mereka memiliki pekerjaan. Nah, bagaimana jika sang suami justru malah bertukar peran dengan sang istri untuk mengurus rumah sebagai ‘Bapak Rumah Tangga’.

Memang cukup jarang terdengar di telinga kita, bahkan sekalipun mendengar istilah ‘Bapak Rumah Tangga’, bukan tidak mungkin kita langsung mengernyitkan dahi. Memang sudah terbentuk sebuah pola dalam masyarakat Indonesia bahwa tugas utama seorang istri adalah mengurus rumah sedangkan suami wajib mencari nafkah. Karena itulah, tidak heran jika celotehan miring pun menyertai langkah para perempuan yang memutuskan menjalani peran ganda, sebagai perempuan karir dan ibu rumah tangga. Bertukar peran antara suami-istri pun bukan tidak mungkin dilakukan dalam sebuah rumah tangga.

Bertukar Peran
Adalah Gina (30) dan Rafi (35) yang memutuskan untuk bertukar peran sejak mereka membuat komitmen untuk menikah. Sejak menikah, Gina yang memiliki pekerjaan sebagai seorang GE di sebuah perusahaan minyak, berperan sebagai pencari nafkah utama dalam rumah tangga karena Rafi memutuskan untuk menjalankan usaha sendiri.

Rumah tangga Gina dan Rafi kini telah dikaruniai 2 orang anak. Komitmen untuk bertukar peran pun membuat Rafi fokus untuk mengurus 2 orang anak dan masalah rumah tangga harian mereka. Walaupun sebagai Bapak Rumah Tangga, Rafi tidak sepenuhnya menganggur karena usaha foto yang dijalani Rafi masih mendatangkan job yang membuatnya tetap bisa berkontribusi dalam membiayai keperluan rumah tangga.

Tertarik jadi “Bapak Rumah Tangga”
Janies (26), lajang, mengaku bahwa ketika nanti ia menikah, ia pun ingin menjadi seorang Bapak Rumah Tangga. Tidak takut pada komentar sinis dan miring yang akan didapatinya nanti, Janies mengaku bahwa keputusannya untuk menjadi Bapak Rumah Tangga semata demi kepentingan anaknya kelak.
“Ketika saya menikah nanti, saya tidak mau bekerja. Saya hanya ingin di rumah mengurus anak bersama istri, tapi kalau istri saya mau bekerja, saya tidak akan melarang. Menjadi Bapak Rumah Tangga bukan berarti lepas tangan dan tidak bisa menafkahi keperluan keluarga. Saat ini saya tengah merintis usaha, dengan demikian nanti ketika saya menikah, usaha saya yang akan menjadi sumber utama penghasilan dan saya tidak harus bekerja pada orang serta menghabiskan sebagian besar waktu saya di luar rumah. Keputusan saya ingin menjadi Bapak Rumah Tangga berdasarkan pengalaman pribadi saya yang tumbuh besar tanpa ayah, hanya bersama ibu yang juga sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya. Saya tidak ingin anak-anak saya kelak mengalami nasib seperti saya. Komentar miring? Saya tidak malu jika harus menyandang gelar ‘Bapak Rumah Tangga’,”

Dapatkah diterima?
Diana Tarigan, Psikolog pengembangan perempuan dan anak, dalam sebuah kesempatan mengatakan bahwa saat ini rata-rata perempuan sudah menjalani peran ganda, sebagai istri dan sebagai perempuan karir. Namun, lagi-lagi tidak bisa dipungkiri bahwa satu persepsi yang terbentuk pada masyarakat sering kali menimbulkan komentar-komentar lain yang bisa memengaruhi kita saat menjalani peran masing-masing.

Seperti Gina dan Rafi yang bertukar peran hingga memiliki 2 orang anak, mengaku bahwa pro dan kontra dari keluarga tentang keputusan mereka pun pastinya menghujani rumah tangga mereka. Namun, mereka mengaku bahwa kunci utama yang harus dipegang adalah ‘rumah tangga langgeng’, dengan demikian pihak keluarga dan pihak-pihak lain secara otomatis akan mendukung. Nah, bagaimana menurut kamu, Kompasianer, apakah bertukar peran antara suami dan istri bisa diterima?


Like This..?? Share This Article.......
Read More | komentar

Followers

Arsip Blog

 
Copyright © 2011. Forzant Blog . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template modify by Creating Website. Inspired from Maskolis