Ini berita menyenangkan bagi pasien kanker. Untuk kali perdana, peneliti dari Institut Melanoma Australia, Universitas Sydney, dan Westmead Hospital di Sydney menemukan sebuah obat untuk mengecilkan tumor otak pada pasien dengan melanoma—yang umumnya bermula dari tahi lalat yang menjadi ganas–tingkat lanjut.
Obat ini membantu pasien melanoma yang kankernya telah menyebar ke otak. Menurut para peneliti, Kamis (17/5), obat ini dapat membantu memperpanjang hidup pasien yang mengidap salah satu bentuk kanker otak yang paling mematikan tersebut.
Dr. Georgina Long mengatakan, obat bernama Dabrafenib ini, membidik mutasi gen tertentu yang ditemukan dalam setengah dari semua kanker melanoma. Gen tersebut mendorong penyebaran sel kanker ke jaringan tubuh lain. Tetapi, obat baru itu memangkas jalur proses perkembangbiakan sel tidak normal itu.
Dr. Long dan rekannya Profesor Rick Kefford mulai menguji obat pada 46 pasien melanoma. Sepuluh penderita di antaranya sel kankernya telah membelah diri dan membangun jaringan di bagian tubuh lain dan menyebar ke otak. Sementara, 22 relawan bukan pasien melanoma.
Biasanya kondisi pasien melanoma yang sel kankernya telah menyebar ke otak cukup mengerikan. Mereka umumnya bertahan hidup rata-rata hanya empat bulan.
Namun, para pasien yang terlibat dalam uji coba obat baru ini semuanya dapat bertahan sampai lima bulan.
Tumor otak di sembilan dari 10 pasien menyusut dalam enam minggu pertama dan menghilang pada empat pasien.
Dua pasien bertahan hidup selama satu tahun dan satu orang masih hidup hingga bulan ke-19.
“Itu sebuah lompatan besar untuk pasien dengan tumor yang telah menyebar ke otak, terutama melanoma, karena mereka biasanya bersamaan,” kata Dr Long kepada AAP.
“Selama 40 tahun kami telah bekerja demi pengembangan obat untuk melanoma dan tidak ada yang meningkatkan kelangsungan hidup, rata-rata bertahan hanya sembilan bulan setelah diagnosis melanoma,” kata perempuan peneliti ini.
Sekitar seperempat dari semua pasien melanoma tingkat lanjut memiliki kanker di otak pada saat diagnosis. Sementara, otopsi menunjukkan sekitar 70 persen pasien memiliki tumor otak.
Dr. Long mengambahkan, dalam studi tersebut, setengah dari pasien yang tidak memiliki tumor di otak, kanker di bagian lain dari tubuh mereka menyusut hingga 30 persen atau lebih.
Dengan begitu, menurut Dr. Long, kemungkinan obat tersebut juga dapat mengobati kanker lain.
Studi yang didanai perusahaan farmasi GlaxoSmithKline dan diprakarsai oleh Dr. Long dan Prof Kefford ini memang didorong untuk menguji obat pada pasien dengan tumor otak metastasis yang disebabkan oleh melanoma. Pasalnya, kelompok pasien ini, kata Dr. Long, kerap dikecualikan dari uji klinis karena prognosis penyakit mereka yang buruk.
Uji coba tersebut juga menemukan obat baru sukses pada mutasi gen jenis tertentu yang umum ditemukan pada pasien melanoma di Australia dan wilayah dunia lain yang tinggi paparan sinar Ultra Violet.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Inggris, Lancet, dan akan segera dilakukan uji klinis dalam kelompok yang lebih besar.
Like This..?? Share This Article.......


0 komentar:
Posting Komentar