Popular Post

Home » » Jangan Sembarangan Minum Obat Pencahar

Jangan Sembarangan Minum Obat Pencahar

Written By Bodhonk on Jumat, 11 Oktober 2013 | 15.02


KOMPAS.com - Tanpa penanganan yang serius, konstipasi atau sembelit bisa menjadi masalah kronis. Namun, bukan berarti masalah ini bisa terselesaikan hanya dengan meminum obat pencahar. 

"Obat pencahar hanya pertolongan pertama," kata Astrid Karina D., dokter umum dari Klinik Nirmala, Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Ahli medis pun tidak merekomendasikan penggunaan obat pencahar yang terus-menerus dan dalam jangka waktu lama. Makanya, dr. Suria Nataatmadja, Group Medical Affairs Manager PT Boehringer Ingelheim Indonesia menegaskan, obat pencahar keluaran perusahaannya, Dulcolax, hanya boleh diminum paling lama dalam empat pekan. 

"Kalau pola konstipasi tidak berubah atau memburuk, harus ke dokter," imbuhnya.

Toh, Chudahman Manan, Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI), menyarankan, penderita sebaiknya tidak langsung mengonsumsi obat-obatan pencahar saat terjadi masalah pembuangan ini. "Harus dilihat dulu akar masalahnya," jelas Chudahman.
Apalagi, konstipasi bisa terjadi karena banyak hal. Misalnya, kurangnya tubuh kurang bergerak. Ini biasanya terjadi pada orang sakit yang terlalu lama berbaring. Kurangnya aktivitas gerak tubuh membuat otot usus menjadi  lemah sehingga tidak bisa mendorong pembuangan.
Konstipasi juga bisa terjadi karena kekurangan asupan makanan atau cairan. Kekurangan asupan makanan kerap terjadi pada orang yang sedang menjalankan diet. Soalnya, pelaku diet kerap tidak bisa menjaga asupan serat saat mereka mengurangi porsi makan.
Kekurangan cairan pun mengundang konstipasi. Sebab, jika cairan kurang, bahan makanan yang masuk ke usus merljadi terlalu padat dan sukar dikeluarkan.
Penyebab konstipasi lainnya adalah efek asupan obat. Misal, ungkap Chudahman, penderita jantung biasanya mengonsumsi obat yang menenangkan saraf. Alhasil, semua otot tubuh jadi lebih rileks, termasuk otot usus, dan ini berujung pada konstipasi.
Yang paling ironis, ternyata obat pencahar juga bisa menjadi bumerang bagi penderita konstipasi. Obat pencahar bisa membuat penderita ketergantungan. Obat pencahar juga mengacaukan ritme tubuh dan mendorong terjadi konstipasi lanjutan.
Makanya, untuk mengatasi konstipasi, para pakar medis menganjurkan pertama kali, penderita memperbaiki pola hidup. Misalnya, meningkatkan konsumsi makanan berserat, meningkatkan asupan cairan ke dalam tubuh, memperbanyak aktivitas gerak, mengurangi makanan berminyak dan sukar dicerna, serta memperbaiki pola diet. Chudahman juga menganjurkan penderita konstipasi mengatur kebiasaan BAB.
Untuk mengeluarkan feses yang keras, dokter akan memberikan cairan bernama enema. Cairan licin ini akan dimasukkan lewat anus sehingga memudahkan pembuangan.
Jika harus mengonsumsi obat pencahar, Chudahman meminta pasien tidak sembarangan memilih, meski saat ini banyak obat pencahar yang dijual bebas.
Obat pencahar yang berbahaya biasanya memaksa defekasi dengan memperbanyak volume cairan dalam usus sehingga menimbulkan efek ingin buang air besar. Padahal, volume cairan itu diambil dari organ tubuh. Ini menyebabkan kekeringan dan kerusakan dinding usus.
Obat pencahar juga bisa menimbulkan efek diare alias BAB sampai lebih dari lima kali sehari. Pada saat diare, air dan elektrolit yang dibutuhkan tubuh dipaksa keluar. Padahal, organ tubuh seperti jantung membutuhkan elektrolit untuk memompa darah. Nah, diare berkepanjangan bisa menyebabkan denyut jantung ikut melemah.
Karena itu, Anda harus memilih obat pencahar yang lolos uji klinis. Obat pencahar yang merangsang pergerakan otot peristaltik usus lebih baik. Obat semacam ini akan menimbulkan keinginan buang air besar hanya ketika volume sisa makanan sudah cukup untuk dikeluarkan.

Pilih yang sudah teruji klinis
Untuk mengurangi risiko mengonsumsi obat, ada baiknya, Anda mengonsumsi obat yang telah teruji klinis alias sudah ada bukti batas aman penggunaan obat. 

Suria bilang, obat pencahar yang baik bukan sekadar merangsang terjadinya proses defekasi atau buang air besar (BAB). Obat itu juga bisa memperbaiki frekuensi konstipasi tanpa menyebabkan ketergantungan serta sekaligus mengurangi rasa kembung dan rasa tidak nyaman dalam perut.

Chudahman menyarankan agar penderita konstipasi mengonsumsi obat pencahar yang merangsang gerak peristaltik usus. Obat pencahar jenis ini biasanya memilild kandungan bisacodyl.
Suria menambahkan, obat pencahar yang baik juga memiliki lapisan bernama salur enterik. Lapisan ini membawa obat langsung ke usus besar, tanpa diserap tubuh. Jadi, obat ini tidak mengganggu organ tubuh lainnya.(Sanny Cicilia Simbolon)
Like This..?? Share This Article......

0 komentar:

Posting Komentar

Followers

 
Copyright © 2011. Forzant Blog . All Rights Reserved.
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Template modify by Creating Website. Inspired from Maskolis